Sedikit Tentang Perjalanan Hidup
Seorang EDY WIBOWO
Jakarta tanggal 24 Oktober 1983 pukul 10.15 pm terlahirlah kedunia ini seorang anak laki-laki dari pasangan Sukamto dan Suprapti di salah satu ruang bersalin RS. Islam Jakarta timur. Setelah dikandungnya selama 10 bulan, akhirnya dapat dilahirkan secara normal. Anak tersebut merupakan anak ke dua yang satu minggu kemudian di beri nama Edy wibowo. Di awal kehidupan nya Bowo sangat memprihatinkan, karena kondisinya yang sangat lemah sehingga sering diserang penyakit seperti diare. Kedua orangtua yang hidup dalam kesusahan dan serba pas-pasan tak bisa berbuat banyak. Bahkan Bowo sempat diduga akan lumpuh layu (tak bisa jalan) baru lah setelah ber umur dua tahun dugaan tersebut luntur. Bowo dapat berjalan sebagaimana anak-anak normal lainnya. Hal ini sebagai pencerahan kepada kedua orang tuanya. Seiring dengan kondisi Bowo yang kian membaik begitu pula dengan ekonomi keluarga tersebut.
Masa balita Bowo dijalani seperti anak tunggal, padahal ia memiliki seorang kakak laki-laki yang berusia 3 tahun lebih tua darinya. Sang kakak dititipkan pada orangtua dari ibunya di desa (Kendal – Jateng). Barulah ketika Bowo menginjak usia 5 tahun sang kakak kembali kepangkuan kedua orangtuanya bersama juga Bowo. Adaptasi psikologis yang dijalani dua kakak beradik ini tidak berjalan mulus. Kedua nya merasa kasih sayang yang diberikan kedua orangtuanya tidak adil terhadap dua kakak beradik ini. Tak ayal perselisihan kerap terjadi antara dua kakak beradik ini.
Tahun 1990 pertama kali Bowo kecil mengenyam pendidikan. Di SDN 01 pagi Pondok Kelapa Jakarta-Timur. Bowo tak melalui masa Taman kanak-kanak terlebih dahulu karena tidak adanya biaya di samping itu pula lokasi sekolah Taman kanak-kanak sangat jauh dari tempat Bowo tinggal. Di sekolah ini Bowo terlihat biasa-biasa saja tak terlalu menonjol dalam hal prestasi akademik. Walau pun sempat mendapat rangking 5 diakhir kelas 1 dan tak berlanjut dikelas-kelas berikutnya. Bakat menggambar Bowo mulai tampak ditandai dengan semua buku-buku pelajarannya yang terbilang jorok karena penuh dengan coret-coret (gambar). Dalam hal olah raga bisa dibilang cukup baik. Diantara teman-teman sekelasnya Bowo adalah pelari tercepat, mereka kualahan saat bermain benteng yang dalam permainan tersebut mengharuskan mengejar lawannya. Bowo juga cukup disegani teman-temannya karena sering berkelahi di kelas.
Di kelas 2 Bowo mendapat sahabat kental yang merupakan murid baru di sekolah itu. Aditya Pandu Pradana. Setiap hari mereka selalu bermain bersama baik itu sekolah maupun diluar sekolah. Setiap pulang sekolah mereka berdua memiliki rutinitas balap perahu kertas di sungai dekat sekolah. Buku catatan sampai habis setiap hari disobek untuk dibuat menjadi perahu. Dikelas pun mereka berdua yang duduk satu bangku terbilang tak bisa diam. Hingga suatu ketika Ibu guru jengkel melihat tingkah mereka dan kemudian menyetrapnya di didepan kelas. Dipertengahan kelas 3 Adit di pindah sekolah oleh kedua orang tuanya. Bowo merasa sangat kehilangan.
Murid baru kembali masuk saat kenaikan kelas 4, yang akhirnya juga menjadi sahabat karib Bowo. Muhammad Syafii Hadi. Tak seperti dengan Adit yang bersahabat hanya eksklusif berdua saja, kali ini Bowo, Hadi bersahabat dalam sebuah grup bersama Zainal Abidin, Muhamad Taufik, dan Nur Hidayat. Meskipun demikian Bowo tetap senang karena memiliki sahabat baik lagi. Persahabatan tersebut tak berdampak baik bagi prestasi akademik Bowo, bahkan cinderung berdampak buruk. Bowo terbawa oleh sahabat-sahabatnya yang secara statistik kecerdasannya jauh di bawah Bowo kecuali Nur Hidayat. Saat kenaikan kelas 5 Bowo kembali kehilangan sahabat-sahabatnya, kali ini Bowo yang dipindah sekolahnya. Kepindahan tersebut diiringi dengan pindah tempat tinggal Bowo dan keluarga.
Tempat tinggal Bowo dan keluarga pindah ke Bekasi. Bowo di sekolahkan di tempat Bapaknya mengajar. SDN 17 Duren Sawit Jakarta Timur. Dimaksudkan untuk mempermudah antar jemput Bowo. Jarak sekolah dengan rumah yang cukup jauh membuat Bowo kelelahan dan sangat mengganggu konsentrasi belajarnya. Dilingkungan rumahnya yang barupun membuat Bowo sangat canggung untuk bermain karena belum mengenal lingkungan. Hal ini membuat Bowo menjadi malas beraktifitas dan mulai kelebihan berat badan. Orangtua nya tak tega melihat Bowo seiap hari kelelahan karena perjalanan yang jauh dari rumah ke sekolah. Akhirnya pada catur wulan III kelas 5 Bowo kembali di pindah sekolah. Kali ini di SDN Bumi Bekasi Baru IV. Di sekolah ini prestasi akademik Bowo mulai membaik bertolak belakang dengan prestasi olahraga nya. Nilai raportnya cukup baik dan membuatnya selalu masuk sepuluh besar. Bahkan pada saat kelulusan nilainya menduduki peringkat tertinggi kedua.
Selepas pendidikan dasar Bowo melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Bowo di terima masuk di SLTP N 16 Bekasi, salah satu SLTP favorit di bekasi. Di sekolah ini Bowo memliki banyak sahabat; Priko Rino, Novlan Sius Simbolon, Rino Yanwar, Pria Utama, Muhamad Romadhona, dan masih banyak lagi. Prestasi akademiknya pun demikian bagus, selalu masuk dijajaran sepuluh besar dengan torehan terbaik rangking dua di awal kelas 2. kegemilangan prestasi akademik tak diiringi prestasi olah raga, sempat mendapat nilai merah pada saat kenaikan kelas 1. hal ini membuat Bapaknya berang dan datang kesekolah menuntut perbaikan. Tapi justru hal tersebut membuat Bowo mendapat intervensi dari guru-guru sekolahnya yang lain. Terjadi di awal kelas dua, nilai mata pelajaran bahasa sunda merah. Padahal saat itu Bowo menduduki peringkat ke dua di kelasnya.
Naik kelas 3 Bowo kembali dipindahkan sekolahnya. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, kali ini justru menjauh dari kedua orangtuanya. SLTPN 1 Pageruyung Kendal Jawa Tengah tempat baru Bowo bersekolah. Dan tinggal bersama orangtua dari Ibunya. Di sekolah ini Bowo tetap menunjukkan eksistensinya sebagai siswa yang cukup cerdas. Terbukti dengan selalu masuk dalam jajaran lima besar peringkat di kelasnya. Bahkan nilai kelulusannya ada peringkat 15 besar di sekolahnya. Walaupun agak kesulitan beradaptasi dengan lingkungan karena perbedaan bahasa. Namun Bowo tetap dapat memiliki beberapa orang sahabat; Dian Permana Sari, Fachrudin, Ngatio, Tri Fatnawati, dan lainnya yang tidak dapat diingat namanya. Di masa ini Bowo mendapat pengalaman yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Seperti jarak dari rumah ke sekolah yang mencapai 15 Km melewati lembah bukit perkebunan pala dan karet. Sarana transportasi sangat jarang sehingga terkadang mengharuskan Bowo bergelantungan atau naik di atap mobil omprengan agar dapat terangkut sampai ke sekolah. Dan apabila tertinggal mobil omprengan tersebut terpaksa Ia ber jalan kaki dari sekolah ke rumah atau sebaliknya. Hal ini yang membuatnya tak betah, keluhan disampaikan lewat surat-surat yang dikirimkan kepada Ibunya.
Bowo kembali ke Bekasi melanjutkan sekolah di tingkat Sekolah Menengah Umum. Dengan Nilai Ebtanas Murni (NEM) 38,94 dari enam mata pelajaran. Seharusnya Bowo dapat diterima di SMU negeri yang cukup favorit di Bekasi. Namun Bapaknya lebih menginginkan Bowo sekolah di Jakarta, mungkin karena trauma dengan sistem pendidikan di Bekasi. Kenyataan tak berjalan sesuai rencana, Bowo tidak diterima di SMU negeri di Jakarta. Coba mendaftar di SMU negeri di Bekasi ternyata sudah tutup masa pendaftaran. Akhirnya Bowo di sekolahkan di salah satu SMU swasta yang sangat tidak favorit di Bekasi. SMU TamanSiswa Bekasi. Semula sekolah ini hanya untuk transit sementara untuk kemudian di pindahkan ke SMU negeri, namun pada akhirnya Bowo di sekolah ini sampai lulus. Di sekolah yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara ini Bowo menjalani masa remajanya dengan segala problematikanya. Prestasi akdemiknya tak terlalu bagus tapi juga tak terlalu buruk, meskipun di awal kelas 1 sempat dapat rangking tiga dan Bowo juga tak pernah lepas dari kelas unggulan.
Jadi di sekolah ini ada sistem kelas unggulan. Dimana setiap akhir catur wulan nilai murid satu sekolah di rangking dan berada pada urutan 1-45 berhak duduk di kelas unggulan. Seleksi terus dilakukan setiap akhir catur wulan.
Di sekolah Bowo cukup aktif mengikuti kegiatan ekstra kulikuler Pramuka. Di kegiatan ini sikap, karakter dan skil Bowo mulai terbentuk.
Hal yang lazim dialami oleh anak-anak seusianya adalah masalah percintaan. Selama SMU tercatat Bowo tiga kali memiliki pacar ; Rismawati Sinaga (teman satu kelas), Ineke ( SLTP Strada Bekasi), dan Yeyen Yeniansayah (SLTP Mandalahayu). Diantar jajaran nama-nama tersebut sebenarnya ada satu nama yang sangat di cintainya tapi tak kesampaian Dwi Suci Handayani (teman satu ekskul dan satu kelas). Kisah cinta nya cukup pelik dan berliku-liku namun dari situ Bowo dapat banyak memetik pelajaran hikmahnya.
Berikut kesan dan pesan dari Teman-teman sekelasnya :
ERNA FENTI CAROLINE
Negatif
· Orangnya so – toy, soim
· Rada-rada bawel
· Suka ngatain, dan
· Ga bisa ngertiin perasaan cewek
· Ga gentle man (klo suka sama cewek ngomong dong !)
Positif
· Baik, Rapi
· Lucu ( suka ngelawak )
· Enak buat ngomong and curhat
· Nice boy ( some times )
MARULI SIMORANGKIR
· Smart boy, cause he can draw, sing, paint waals
· Courage is Edy have
· Humorist, of corse
· Nice to talk him
· He is lazy too
EVA PRIMADONA MAHA
Negatif
· So – toy
· Kadang nyebelin
· Kurang menghargai cewek ( some times )
· Males
· Rada “muna”
· Pelit
Positif
· A nice guy ( kadang )
· Lumayan sebagai tempat buat sharing
· Enak and nyambung klo di ajak ngomong
WIDYA ASTUTI
· Orangnya lucu ( humoris )
· Males
· Kalau ngomong ga mikir-mikir
· Asal
· Enak di ajak curhat
· Tahu kalau teman lagi ada masalah
· Ga pelit
Bowo tergabung dalam team power ranger; Dwi Suci Handayani, Vishnu Pradana, Darmawan, dan Nurul Wulan Septi Handayani. Mereka adalah sekumpulan sahabat yang sama-sama bergerak dalam ekskul pramuka. Disamping itu juga ada beberapa nama yang cukup dekat dengannya; Risqi Rosnila Wati, Widya Astuti, Mono Turwono dan Dadang setiawan. Bersama sahabat-sahabatnya ini masa sekolah dilalui dengan berbagai kesan yang kadang sedih, dilematik, tapi sebagian besar menyenangkan. Hingga akhirnya lulus pada tahun 2002 dengan nilai yang sangat pas-pasan. Dengan nilai 50, 25 dari sepuluh mata pelajaran.
Selepas dari SMU Bowo coba mendaftar ke perguruan tinggi lewat Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) tapi tidak berhasil. Menganggur selama beberapa bulan, Bowo kemudian bekerja di sebuah pabrik sepatu di daerah Bekasi. Entah karena tidak betah atau bosan Bowo keluar dari tempat nya bekerja setelah lima bulan bekerja disana. Dari Uang gajinya Bowo bisa membeli Hand Phone (HP) pertamanya. 3310. Ia juga dapat sedikit membantu orangtuanya untuk membayar uang masuk kuliah di Unversitas Islam As-syafiiyah Jakarta Timur.
……..
Sabtu, 02 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar